Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2025

Pacu Jalur 2025: Tradisi Kultural Riau yang Mendunia Lewat "Aura Farming"

Teluk Kuantan, Kuantan Singingi - Festival Pacu Jalur 2025 telah sukses diselenggarakan pada 20 sampai dengan 24 Agustus 2025 di Tepian Narosa, Sungai Kuantan, Riau ([detikTravel][1], [Akurat][2]). Event ini bukan sekadar ajang adu cepat perahu panjang, tetapi juga perayaan budaya lokal yang menyatu dengan pariwisata modern dan viral media sosial.


Rangkaian Acara yang Memikat

Pacu Jalur tahun ini dibuka dengan meriah oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dan dihadiri oleh pejabat tinggi seperti Menteri Kebudayaan, gubernur, hingga duta besar ([momenriau.com][3], [Tirasonline.com][4]). Pembukaan dimeriahkan oleh tarian massal "Aura Farming", melibatkan 100 penari, yang sekaligus menjadi simbol fenomena global yang membumi dari tradisi ini ([momenriau.com][3]).

Rabu, 03 Februari 2016

Mengenal Bela Diri Silat Warisan Raden Wijaya

Ilmu silat Krida Yudha Sinalika berasal dari pendiri sekaligus raja pertama Majapahit Raden Wijaya. Silat itulah yang dipakai Majapahit saat menggalahkan pasukan Tar-Tar Mongol. IA berdiri tegak dengan posisi ta ngan lurus mengarah ke bawah. Sesaat kemudian, ia menekuk tangan ke muka dada. Kedua tangan bertemu sentuh. Telapak tangan kiri terbuka dengan ujung jari mengarah ke atas, sedangkan tangan kanan mengepal bentuk tinju.

Sambil berucap `salam', wanita itu menarik kaki kiri ke depan. Ia merendahkan badan hingga dalam posisi kuda-kuda. Ia kemudian mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua tangan mengepal maju. Perlahan tapi energik, ia menarik kedua tangan dan menariknya mundur sampai bawah ketiak. Jeda menghela napas dalam, ia mengentak kedua kaki.

Senin, 22 Juni 2015

Sabetan Lidi di Pulau Ambon

Tradisi pukul sapu di Maluku Tengah sebagai simbol akan setiap tetesan darah yang jatuh dan meresap ke tanah. Itu sebagai pengingat agar warga kelak berkumpul kembali di tempat tersebut.

SAPU lidi yang terbuat dari sayatan pohon enau atau pohon kelapa, tidak sekadar berguna sebagai alat penyapu halaman rumah atau tempat ti dur, tetapi memiliki fungsi kultural dan sosial bagi masyarakat adat di Desa Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Maluku.

Desa yang berada di Pulau Ambon itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Patri tertanam dalam keseharian hidup.

Mereka memiliki tradisi adat yang disebut pukul sapu. Lidi sebagai alat untuk digunakan dalam perhelatan adat. Ya, sudah barang tentu, sabetan lidi ke tangan atau punggung, pastilah sakitnya terasa sekali.

Selasa, 13 Januari 2015

Kesetiaan Menjaga Warisan Mataram Kuno

BENDA-BENDA purbakala yang ditemukan di Situs Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, sudah mulai dilirik para kolektor barang antik. Mereka sengaja mendatangi lokasi penyimpanan temuan situs dan berusaha mendapatkan benda-benda purbakala itu dengan menawarkan sejumlah uang.

Kepala Desa Purbasari, Sofiudin Anshori, mengaku pernah didatangi kolektor benda antik. Dalam satu tahun sudah ada 10 kolektor yang datang padanya. Kejadian itu ia alami dalam kurun waktu 2012-2013.Malah di antara puluhan kolektor tersebut ada yang pernah menawarkan uang hingga Rp200 juta agar bisa menukar salah satu benda antik yang disimpan di rumahnya.

Senin, 12 Januari 2015

Menyelamatkan Situs Sekelas Pompeii

TEMUAN Situs Liyangan di Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Indonesia mulai dilibatkan dalam penelitian situs perkampungan masa Mataram Kuno itu.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan menjelaskan pelibatan seluruh BPCB akan dimulai akhir 2014 ini, dengan melakukan studi awal. Kerja sama itu akan dilanjutkan pada 2015.
“Meskipun seluruh BPCB se-Indonesia terlibat menggarap penelitian Liyangan, kerja mereka di bawah arahan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman,“ ujar Kacung.

Pelibatan seluruh BPCB itu bertujuan menambah pengalaman bagi tenaga yang ada di BPCB, terutama dalam hal penemuan. Diakuinya, selama ini banyak BPCB kurang pengalaman dalam studi lapangan, terutama mulai penggalian sampai perawatan. Ia berharap dalam penelitian Liyangan ini banyak pihak bisa menambah pengetahuan dan keterampilan.

Jumat, 26 Desember 2014

Nyali di Ujung Bambu

Meriam bambu di NTT memiliki nilai dan makna tersendiri. Warga memainkannya untuk menyambut datangnya Hari Natal.
P ENGARUH budaya Eropa di se bagian besar daerah Nusa Teng gara Timur (NTT) memang masih terasa hingga saat ini. Tidak hanya pada tarian modern (dansa) ala bangsa kulit putih, simbol peperangan pun masih tertanam kuat.

Simbol peperangan itu berupa permainan perang-perangan bunyi dengan menggunakan meriam bambu. Itu masih bisa kita temukan hingga kini. Meriam bambu bukan secara kasatmata berpeluru sebagaimana digunakan bangsa Eropa saat menjajah Nusantara. Unsur utamanya terletak pada bunyi.

Meriam bambu di NTT berupa batang bambu, dibuat menyerupai bedil. Biasanya, anak-anak dan remaja memainkan pada Desember. Meriam siapa yang mengeluarkan bunyi paling keras, dialah yang menjadi raja dalam permainan.

Senin, 01 Desember 2014

Perempuan Nomor Satu di Majapahit

Menyelami peradaban kuno lewat tarian dan bangunan berstruktur kompleks membuktikan bangsa ini pernah jaya dan sangat mungkin menjadi negeri besar kembali. Puluhan orang duduk bersila di tanah berumput. Ada yang sudah P menyiapkan alas berupa tikar, tapi sebagian duduk di atas rumput yang sedikit lembap karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20. 30 WIB.

Sedikit embun sudah turun membasahi. Kami, 36 pelancong asal Jakarta yang mengikuti perjalanan bersama Gelar dalam rangka mengenang 721 tahun Kerajaan Majapahit juga ikut bergabung bersama mereka. Rumput yang kami jadikan alas duduk merupakan bagian pelataran halaman Candi Brahu, peninggalan zaman Mpu Sindok yang menjulang megah 20 meter.

Akhir pekan lalu, candi yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, itu disulap menjadi sebuah tempat pementasan, dengan tambahan panggung 7x4 meter. Sorotan lampu di kiri dan kanan bangunan tersebut menampilkan efek mewah, bayangan yang terbentuk menghasilkan efek tiga dimensi di depan pintu.

Rabu, 19 November 2014

Rumah Tempat Merancang Masa Depan

Rumah besar (umma kaladha) bagi setiap suku di Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi tempat berkumpul untuk merencanakan masa depan serta membuat dan merealisasi janji dengan para leluhur.

ROMBONGAN tamu yang akan dijemput baru akan datang pukul 09.00 Wita. Namun, para penari, penabuh tambur dan gong, beserta tetua adat Kampung Adat Manola di Desa Tena Teke, Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah bersiap-siap di gerbang kampung sejak Sabtu (4/10) pukul 07.00.

Minggu, 16 November 2014

Akulturasi Kisah Ramayana

PRABU Dasarata yang akan turun takhta dari Kerajaan Ayodya ingin menyerahkan kuasa kepada Rama. Namun, sang ibu tiri, Dewi Kekayi, menginginkan sang adik, Bharata, yang meneruskan takhta tersebut, sedangkan sang kakak, Rama, harus diasingkan selama 14 tahun ke Hutan Dandeka.

Bharata dan Satrukna beserta prajurit Kerajaan Ayodya tiba-tiba datang menemui Rama dan mengabarkan perihal kematian ayah mereka. Sejak awal Bharata memang tidak mau menerima takhta itu. Ia berjanji akan segera memberikan takhta tersebut sepulangnya
Rama dari masa pembuangan.

Setelah Bharata kembali pulang, Rahwana raja Alengka dan Kalamanca mengintai dari kejauhan. Kalamanca yang diminta menjadi kijang oleh Rahwana berhasil mengecoh Rama dan Laksamana sehingga ia leluasa menculik Shinta. Dalam perjalanan Rahwana ber hadapan dengan Jatayu yang mencoba meng halau penculikan tersebut, tapi akhirnya ia mati di tangan Rahwana. Saat ia terkapar, Rama dan Laksamana sempat menemui dan ia memberitahukan penculikan Shinta yang dilakukan Rahwana.