Rabu, 19 November 2014

Rumah Tempat Merancang Masa Depan

Rumah besar (umma kaladha) bagi setiap suku di Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi tempat berkumpul untuk merencanakan masa depan serta membuat dan merealisasi janji dengan para leluhur.

ROMBONGAN tamu yang akan dijemput baru akan datang pukul 09.00 Wita. Namun, para penari, penabuh tambur dan gong, beserta tetua adat Kampung Adat Manola di Desa Tena Teke, Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah bersiap-siap di gerbang kampung sejak Sabtu (4/10) pukul 07.00.

Mereka menantikan kedatangan Direktur Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Hartini yang akan meresmikan dua buah rumah adat yang baru selesai dibangun beserta 15 rumah adat lain yang baru selesai direnovasi. Sejatinya, mereka hanya mendapat bantuan biaya untuk dua rumah, tapi mereka mengelola dana itu sehingga bisa merenovasi 15 rumah adat lainnya.

Masyarakat kampung bergotong royong mengumpulkan berbagai material dari alam di sekitar, di antaranya alang-alang, bambu, dan kayu. Mereka pun bekerja tanpa pamrih. “Sungguh luar biasa,“ puji Ketua Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba Pastor Robert Ramone CSsR.

Sebelum rombongan datang, sesekali mereka menabuh tambur, gendang, dan gong. Tabuhan tambur Tinus dan pemukul gong benar-benar membuat wajah warga kampung bergembira. Sontak, tabuhan Tinus menggerakkan beberapa tua adat yang sudah dalam balutan pakaian adat Sumba lengkap, menari gembira. Karena usia yang sudah senja, ada yang kemudian duduk-duduk karena keletihan. Setelah pulih, mereka kembali menari.

Berbalas pantun Dalam musik tradisional Sumba, bunyi tambur sangat menentukan hidupnya irama musik yang dimainkan. Tinus telah melakukan tugasnya dengan baik. Tatkala rombongan menanjak untuk segera masuk kampung, dia kembali menabuh tambur, diikuti alat musik lain. Para penari pun beraksi. Uniknya, bukan hanya para penari yang beraksi, melainkan juga ibu-ibu dan warga kampung ikut menari gembira.Tetamu kemudian disambut dengan oka (penyambutan) menggunakan pantun-pantun adat dalam bahasa setempat. Alfonsus Umbu Reda, seorang tetua adat tuan rumah, bertanya kepada rombongan, kemudian dibalas tetua adat lain mewakili rombongan.

Lalu pakaian adat Sumba dikenakan ke Dirjen Sri, sedangkan anggota rombongan lain, termasuk sejumlah wartawan, mendapat selempang kain tenun ikat sebagai ucapan selamat datang.Makam-makam tua Kampung adat Manola berada di selatan, sekitar 30 km dari Tambolaka, ibu kota Kabupaten SBD. Kampung Manola dikelilingi pagar batu alam.

Saat ini, di dalamnya terdapat 26 rumah adat. Seluruhnya bermenara dan terbuat dari alang-alang, sedangkan bagian halaman ditutupi lempengan batu alam. Sebagian besar batu itu merupakan kubur warga setempat yang sudah ada turun-temurun. Hampir di seantero kampung terdapat batu kubur tua (Megalitikum) berukuran besar yang sudah berumur ratusan tahun.

Mengapa kubur ada di dalam kampung, atau mengapa orang Sumba membuat kuburan kerabat di samping atau depan rumah?
Jhon Lede Bili, salah seorang penghuni kampung, menjelaskan dalam kosmologi orang Sumba, setiap orang yang sudah meninggal selalu memiliki hubungan erat dengan kerabat yang masih hidup. Karena itu, kedekatan sangat penting agar bisa selalu memberi salam.

“Itulah sebabnya kampung ini penuh dengan makam baik yang sudah ratusan tahun maupun yang baru,“ jelas pensiunan guru SD itu. Tidak ada dokumen tertulis yang menjelaskan Kampung Manola. Namun, warga yakin bahwa kampung mereka sudah berumur ratusan tahun.

Bahkan di antara warga ada kepercayaan yang menyatakan mereka ialah keturunan matahari dan bulan, dalam bahasa setempat disebut palala lodho, palala wulla. Jika diterjemahkan, ungkapan tersebut berarti yang dibuahi matahari, yang dibuahi bulan.Rumah adat Rumah adat di kampung tersebut ditempati secara turun-temurun. Salah satu warga kampung dipilih menjadi rato wanno atau raja kampung. Penentuan rato tergolong unik, dilakukan melalui pemilihan.

Beberapa orang yang memiliki pengetahuan adat memadai dan bermoral baik dimasukkan sebagai nomine. Suatu hari, para nomine berkumpul sambil membawa ayam atau babi untuk urata, sebuah ritual berkomunikasi dengan arwah leluhur.

Seorang tetua adat melakukan urata dengan meminta restu dan petunjuk para leluhur. Ayam atau babi yang dibawa tersebut dikorbankan kepada leluhur sembari menyampaikan harapan agar leluhur menunjukkan tanda bisa atau tidak pembawa babi atau ayam itu menjadi rato wanno.

Setelah ayam atau babi dikorbankan, usus dan hatinya diambil untuk `dibaca'. Dari hasil pembacaan itu diketahui siapa yang direstui leluhur untuk menjadi rato wanno atau raja kampung. Biasanya, hasil pembacaan diterima dengan lapang dada oleh semua warga kampung. Yang memimpin urata tidak bisa menipu sebab yang membaca atau memeriksa hati atau usus ayam dan babi itu bukan hanya rato urata, tapi siapa saja yang hadir dan bisa membaca.

Seseorang yang terpilih akan bertugas sebagai pelaksana ritual-ritual adat dalam kampung.Semangat dan kerja keras Ritual-ritual adat selalu dilakukan dalam umma kaladha. Di sinilah pentingnya setiap suku memiliki rumah adat. Karena itu, warga Kampung Manola sangat berterima kasih atas bantuan dana revitalisasi dan bantuan sosial dari Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Seperti dijelaskan Camat Wewewa Selatan Jeremia Tanggu, dulu warga masyarakat malu meminta bantuan kepada pemerintah. Masyarakat melakukan dan membiayai semua kegiatannya secara swadaya. Namun karena perkembangan yang terjadi, pemerintah akhirnya turun tangan.

Dalam kunjungan tersebut, Dirjen Sri Hartini, Pastor Robert, Camat Jeremia Tanggu, dan Asisten 2 Sekretaris Daerah Elisabeth Kallu mengimbau warga untuk menjaga rumah-rumah yang telah dibangun dengan susah payah tersebut. “Caranya, tempati, selalu hidupkan api, pakai untuk ritualritual adat. Pasti bertahan lama,“ ujar Pastor Robert.

Selain Kampung Manola, dirjen meresmikan rumah adat Kampung Bhuka Regha, Desa Karuni, Waitabula, SBD, dan rumah adat di Kampung Lewa Paku, Desa Kambuhapang, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Warga di ketiga kampung merasa sangat bergembira atas perhatian pemerintah pada kampung mereka.

“Umma kaladha ialah tempat kami berkumpul. Terima kasih atas bantuan ini.Sejatinya, rumah adat ialah tempat yang menyatukan kami,“ tutur Daud Kalumbang, salah satu warga Kampung Bhuka Regha.(M-3) Media Indonesia, 16/11/2014, halaman 10