Minggu, 16 November 2014

Akulturasi Kisah Ramayana

PRABU Dasarata yang akan turun takhta dari Kerajaan Ayodya ingin menyerahkan kuasa kepada Rama. Namun, sang ibu tiri, Dewi Kekayi, menginginkan sang adik, Bharata, yang meneruskan takhta tersebut, sedangkan sang kakak, Rama, harus diasingkan selama 14 tahun ke Hutan Dandeka.

Bharata dan Satrukna beserta prajurit Kerajaan Ayodya tiba-tiba datang menemui Rama dan mengabarkan perihal kematian ayah mereka. Sejak awal Bharata memang tidak mau menerima takhta itu. Ia berjanji akan segera memberikan takhta tersebut sepulangnya
Rama dari masa pembuangan.

Setelah Bharata kembali pulang, Rahwana raja Alengka dan Kalamanca mengintai dari kejauhan. Kalamanca yang diminta menjadi kijang oleh Rahwana berhasil mengecoh Rama dan Laksamana sehingga ia leluasa menculik Shinta. Dalam perjalanan Rahwana ber hadapan dengan Jatayu yang mencoba meng halau penculikan tersebut, tapi akhirnya ia mati di tangan Rahwana. Saat ia terkapar, Rama dan Laksamana sempat menemui dan ia memberitahukan penculikan Shinta yang dilakukan Rahwana.

Rama dan Laksamana pun mencari Shinta. Dalam perjalanan di Hutan Kiskenda ia bertemu dengan kera putih bernama Hanoman yang meminta pertolongan atas kesulitan yang dialami pamannya, Sugriwa.

Pertikaian antara Sugriwa dan Subali yang didasari kesalahpahaman itu tidak mampu diselesaikan karena Subali begitu sakti hingga akhirnya panah Rama-lah yang mempu menewaskan Subali hingga takhta Kerajaan Goa Kiskenda dipegang Sugriwa.

Merasa berutang budi, Sugriwa dan prajurit Kerajaan Goa Kiskenda di bawah kepemimpinannya membantu Rama menuju Alenka. Maka terjadilah peperang an dengan para pasukan raksasa Rahwana dan dimenangi Rama. Sementara itu, di Taman Argasoka Alengka, Shinta resah menunggu kabar peperangan. Tak berapa lama para kera menghampirinya dan Shinta pun dijemput Hanoman yang mempertemukannya kembali dengan Rama.

Di akhir cerita, Cepot, Dawala, dan kawankawan sedang menanti kepulangan Rama dari masa pembuangan selama 14 tahun.
Ia kembali bersama Shinta, Laksamana, dan Sugriwa beserta pasukannya. Mahkota Kerajaan Ayodya pun dipersembahkan untuk Rama dan diumumkan kepada seluruh rakyat.

Ada yang tidak biasa dari pertunjukan Ramayana dalam babak Rama Jadi Raja di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (7/11) lalu. Para pelakonnya menggunakan topeng khas Betawi dan para pelakon wanita tidak menggunakan kemben, tetapi kebaya. “Kalau Ramayana Jawa serius, di Betawi ada akulturasi budaya bisa memasukkan celotehan,“ ungkap ide pengarap Ramayana Betawi, Abd Rachem, yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, di kantornya, Rabu (12/11).

Budaya Betawi Sejak abad ke-18 Betawi sudah memiliki wayang wong. Hal itulah yang mendasari kisah pewayangan Ramayana dimainkan dengan budaya Betawi. Selain itu, gamelan ajeng yang merupakan musik khas Betawi pingggir yang berpadu dengan kebudayaan Sunda menjadi musik latar dari pertunjukan tersebut.

“Di wayang kulit juga pakai gamelan ajeng. Pada kisah Ramayana Betawi ini saya pakai juga. Kalau di Sunda dan Jawa melodinya pakai rebab, sedangkan di gamelan ajeng Betawi pakai trompet tradisi,“ tambah Rachem.

Bila di Jawa Ramayana dikisahkan dengan tarian, Ramayana Betawi menggunakan dialog yang dilakukan Punakawan.Sementara itu, pemain lainnya menggunakan topeng betawi.

Menurut Rachem, akulturasi kisah Ramayana sudah dikembangkan dalam versi Batak dan Betawi sejak 2012 lalu saat Festival Ramayana tingkat nasional di Prambanan yang digelar empat tahun sekali. Biasanya itu diadakan di daerah yang memiliki wayang seperti Surakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, Bandung, Bali, dan Kalimantan.

Soal akulturasi itu, ia mengatakan budaya Betawi bisa dibawa secara adaptif mulai budaya klasik sampai teater terbuka. “Saya mengemas dari tradisi yang ada, pakemnya masih mencari sampai mendapatkan identitas sendiri seperti bajunya dan geraknya,“ paparnya.

Melalui persiapannya yang hanya memakan dua bulan dan dengan melibatkan banyak sanggar tari Betawi ataupun musik sebanyak 150 orang itu, Ramayana Betawi menjadi terobosan baru dalam seni pertunjukan budaya Betawi.

Ia juga menuturkan pergelaran itu dalam rangka diplomasi dan promosi budaya dengan berbagai segmentasi seperti pemerhati seni pertunjukan dan 18 undangan dari kedutaan yang turut hadir. “Saya ingin mengangkat teater topeng blantek yang sudah hampir punah, direka cipta lagi pada 2015,“ harapnya. (Dzulfikri Putra Malawi/M-2) Media Indonesia, 16/11/2014, halaman 9