Rabu, 03 Februari 2016

Mengenal Bela Diri Silat Warisan Raden Wijaya

Ilmu silat Krida Yudha Sinalika berasal dari pendiri sekaligus raja pertama Majapahit Raden Wijaya. Silat itulah yang dipakai Majapahit saat menggalahkan pasukan Tar-Tar Mongol. IA berdiri tegak dengan posisi ta ngan lurus mengarah ke bawah. Sesaat kemudian, ia menekuk tangan ke muka dada. Kedua tangan bertemu sentuh. Telapak tangan kiri terbuka dengan ujung jari mengarah ke atas, sedangkan tangan kanan mengepal bentuk tinju.

Sambil berucap `salam', wanita itu menarik kaki kiri ke depan. Ia merendahkan badan hingga dalam posisi kuda-kuda. Ia kemudian mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua tangan mengepal maju. Perlahan tapi energik, ia menarik kedua tangan dan menariknya mundur sampai bawah ketiak. Jeda menghela napas dalam, ia mengentak kedua kaki.

Kepalan kanan meninju ke depan atas seolah menuju kepala lawan.Dua kali ia melakukan tinju, sebelum memutar tangan kanan ke belakang.Lalu ia berbalik dengan tumpuan kaki kiri. Beberapa lama, ia melanjutkan jurus beberapa gerakan sampai rampung. Akhirnya ia berucap `salam' dengan posisi tangan seperti saat mula. Itu pertanda satu gerak jurus telah selesai.

Itu secuplik jurus salam yang diperagakan salah seorang pendekar wanita perguruan silat Krida Yudha Sinalika. Setiap malam Jumat, ia biasa berlatih jurus di padepokan yang berada di Tangerang. Itu sudah menjadi kebanggaan sejak duduk di bangku sekolah dasar.Di tanah Indonesia dahulu pernah ada kerajaan-kerajaan besar. Sudah menjadi kebiasaan pula, peninggalan tersebut coba digali kembali.

Tak ada yang tak tahu tentang Majapahit, kerajaan yang terletak di Pulau Jawa bagian timur. Jejaknya tidak hangus, masih ada sampai sekarang. Sebutlah Kolam Segaran, Candi Tikus, dan Candi Bajangratu. Namun, ternyata di samping warisan benda, masih ada warisan tak benda dari Majapahit, yakni silat.

Agaknya, Indonesia memang surga bagi macam aliran bela diri silat. Khazanah ilmu bela diri ternyata memang memiliki akar mendalam dalam budaya Nusantara. Salah satunya ialah Krida Yudha Sinalika. Ilmu bela diri itu berasal dari pendiri sekaligus raja pertama Majapahit Raden Wijaya. Ilmu Sinalika saat itu masih diwariskan turuntemurun khusus secara lisan sampai kepada Empu Raden Samia dji Niti Yudho negoro yang berdiam di lereng Gunung S i n d o r o , Wo n o sobo. Silat perang Salah seorang pendekar Sinalika menyebut silat itulah yang dipakai Majapahit saat menggalahkan pasukan TarTar Mongol.

Silat perang, demikian ilmu tersebut disebut. Penciptaan seni bela diri itu berdasar rona hidup zaman dahulu dengan seringnya terjadi perang, hutan lebat, dan binatang buas. Kondisi alam seperti itu harus dihadapi dengan alat dan senjata tradisional. Itulah alasan banyak di antara gerak bersumber dari gerakan yang ada di alam.

Secara harfiah, penamaan Krida Yudha berarti seni perang, sedangkan Sinalika bermakna naluri. “Sehingga gerakan-gerakannya mengaktifkan semua otot saraf. Penuh dengan naluri.Pada zaman itu, sejarahnya ilmu ini pertama diturunkan Raden Wijaya, pendiri Majapahit pada 1293,“ terang salah seorang putro Sinalika berge lar Pendekar Ratu Kantil.

Meski merupakan silat perang de ngan gerakan mematikan, pada dasarnya ilmu Sinalika punya filosofi polah emoh (tidak bertingkah) yang berarti tidak mau menyakiti dan disakiti lahir batin. “Kita tidak mau menyakiti orang dan kita tidak mau disakiti orang,“ tegas Pendekar Ratu Kantil. Ilmu itu berdasar pada po lah emoh. Istilah pu tro di pakai untuk menye but mu rid. Se tiap m u r i d y a n g belajar Kri da Yudha Sinalika dianggap sebagai anak oleh para guru serta leluhur perguruan. “Kita sebutnya putro, ibaratnya anak,“ lanjutnya.

Dalam melakonkan ilmu itu, para putro diharuskan untuk selalu memegang teguh Sabda Lima. Rumusan dari Sabda Lima sangat mirip dengan dasar negara Indonesia, yakni Pancasila.Sabda Lima berbunyi; sabda pertama, Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sabda kedua, berbakti nyata kepada kedua orangtua, guru, dan orang yang dituakan.

Sabda ketiga, tidak meninggalkan perikemanusiaan terhadap siapa pun dan apa pun. Sabda keempat, kita berasal dari benih yang baik, oleh karena itu berbuatlah kebaikan tanpa meninggalkan pikiran dan perasaan. Sabda kelima, mengakui satu sama lain adalah bukan orang lain. Konsep itu juga tecermin dari lambang perguruan. Bentuk nya bulat lingkaran de ngan garis tepi hitam.

Bagian tengah pusar an lingkaran hitam dengan latar putih terdapat segitiga sama sisi yang masing-masing bertulis Krida, Yudha, dan Sinalika. Tepat di tengah bentuk segitiga, tergambar dua tangan; telapak tangan kiri terbuka dan telapak tangan mengepal. Bentuk lingkaran bergaris ba tas hitam dengan warna dasar putih menggambarkan jagat raya. Bentuk dan latar tersebut mengandung makna putro Sinalika harus menjadi cahaya cemerlang yang dapat memenuhi dan menerangi jagat raya selama-lamanya.

Bentuk segitiga dimaknai sebagai Trimurti. Berbeda dengan konsep Trimurti dalam agama Hindu, Trimurti Krida Yudha Sinalika dipahami sebagai ning (wening/hening), neng (meneng/diam), dan obah (gerak). Artinya, untuk mendapat hasil terbaik harus menepati tiga laku tersebut. (M-2) Media Indonesia, 31 Januari 20166, Halaman 9