Senin, 01 Desember 2014

Perempuan Nomor Satu di Majapahit

Menyelami peradaban kuno lewat tarian dan bangunan berstruktur kompleks membuktikan bangsa ini pernah jaya dan sangat mungkin menjadi negeri besar kembali. Puluhan orang duduk bersila di tanah berumput. Ada yang sudah P menyiapkan alas berupa tikar, tapi sebagian duduk di atas rumput yang sedikit lembap karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20. 30 WIB.

Sedikit embun sudah turun membasahi. Kami, 36 pelancong asal Jakarta yang mengikuti perjalanan bersama Gelar dalam rangka mengenang 721 tahun Kerajaan Majapahit juga ikut bergabung bersama mereka. Rumput yang kami jadikan alas duduk merupakan bagian pelataran halaman Candi Brahu, peninggalan zaman Mpu Sindok yang menjulang megah 20 meter.

Akhir pekan lalu, candi yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, itu disulap menjadi sebuah tempat pementasan, dengan tambahan panggung 7x4 meter. Sorotan lampu di kiri dan kanan bangunan tersebut menampilkan efek mewah, bayangan yang terbentuk menghasilkan efek tiga dimensi di depan pintu.

Pementasan malam itu bertajuk Gelar Seni Kidung Tari Rajapatni, pergelaran yang secara khusus mengangkat kisah Gayatri, sosok istimewa Kerajaan Majapahit. Bunyi tembaga beradu menggaung, memecah keheningan malam, bukan hanya dua, melainkan banyak tembaga, ada yang diadu, digesek di sepanjang permukaan yang berbentuk mangkuk, atau bahkan digoyang seperti sebuah lonceng. Bunyibunyian dari tembaga itu membentuk sebuah impresi tersendiri, menghasilkan suasana mistis dan mencekam, membius.

Paduan nada yang menjadi musik tersebut mengiringi 13 pria yang sebelumnya sudah bersiap di depan candi untuk naik. Mereka memberikan persembahan berupa beras, kelapa, dan barang lainnya yang dianggap istimewa untuk upacara syukuran ke atas candi.

Para pemain musik pun mengitari candi, sampai akhirnya mereka naik ke panggung mengambil tempat di hadapan alat musik gamelan dan gong yang terletak di atas panggung. Pertunjukan pun dimulai. Sosok istimewa Ada dua versi Gayatri, baik dalam kekawin Negarakertagama maupun Pararaton.

Pertama, kisah cintanya dengan Raden Wijaya sebagai kunci kesuksesan Majapahit.
Kedua, bagaimana Raden Wijaya sebelum memperistri Gayatri telah memiliki lebih dari satu istri, dan menganggapnya penjelmaan Dewi Kesuburan. “Gayatri istimewa karena andilnya melahirkan raja besar,“ ucap Hasan Djafar, arkeolog yang didapuk Gelar sebagai narasumber. Lebih dari 30 menit kami seperti dihipnosis, alunan musik khas Jawa Timur dan tempo musik berubah-ubah seiring dengan adegan yang dimainkan di atas panggung. Di sana, kehidupan Gayatri dengan sang ayah, Raden Wijaya, serta Patih Gajah Mada menjadi fokus cerita dengan diakhiri pembacaan sumpah Palapa Gajah Mada yang fenomenal.

Kami bahkan merasa tidak sadar ketika musik dan tarian selesai, rasanya seperti kembali dari lamunan panjang yang diciptakan oleh pergelaran tersebut. Sontak terdengar beberapa tepuk tangan sebelum akhirnya kami semua memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi atas pergelaran tersebut. “Saya ucapkan selamat pada para pemain, sungguh sebuah penampilan luar biasa,“ ucap Hashim Djojohadikusumo selaku ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) setelah pertunjukan. 721 Tahun Pementasan di Candi Brahu merupakan rangkaian acara Festival Majapahit 2014 yang digagas Masyarakat Trowulan Mandala Majapahit. Mereka menggelarnya sebagai perayaa ulang tahun Majapahit yang pada 10 November lalu yang menginjak 721 tahun.

Konon pada tanggal tersebut, Majapahit mengangkat raja pertama mereka, Raden Wijaya, untuk menjalankan pemerintahan hingga akhirnya kemajuan diraih dalam bidang ekonomi. Pemerintahan kerajaan pun tercetak di berbagai literatur dan pelajaran sejarah.
Animo masyarakat di dinginnya malam itu seakan menunjukkan Majapahit memiliki daya tarik tersendiri bagi tiap orang yang datang, meskipun yang tersisa dari kemegahan hanyalah puing dan beberapa bangunan yang telah melewati proses rekonstruksi. Kami beruntung menyaksikan festival yang baru pertama kali diadakan, upaya merawat sejarah di Trowulan. (M-1) Media Indonesia, 27/11/2014, halaman 30