Senin, 01 September 2014

Gerobak Sapi Menjejak Mal dan Hotel

SALAH satu sarana angkutan barang atau kargo yang pernah berjaya di Daerah Istimewa Yogyakarta ialah gerobak sapi. Namun, kini keberadaannya semakin tersisihkan. Bahkan nyaris tidak ada lagi yang menggunakannya sebagai sarana angkutan barang. Fungsi gerobak sapi kini sudah tergusur oleh ‘gerobak peminum solar’--truk atau pikap--yang mampu mengangkut barang lebih banyak dan lebih cepat.

Namun, setelah beberapa kali festival gerobak sapi diselenggarakan, sarana angkutan tradisional itu kembali diminati. Pesanan pembuatan gerobak sapi terus mengalir. Hanya, fungsinya bukan lagi sebagai sarana transportasi, melainkan sebagai klangenan (kegemaran) semata.

“Kami kewalahan membuatnya. Pesanan membuat gerobak terus mengalir,” ujar Mbah Muntil, perajin gerobak di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Mbah Muntil mengaku dalam kurun waktu tiga bulan ini mendapat pesanan enam unit gerobak, dengan harga berkisar Rp5 juta per unit.

Fungsi gerobak saat ini juga naik derajat. Gerobak bukan lagi alat angkut hasil bumi para petani, melainkan kini dipakai sebagai kendaraan pengantin. “Kalau pakai mobil, sudah biasa. Makanya saat anak saya nikah, saya naikkan gerobak menuju tempat resepsi,” ujar Triman, warga Wedomartani, Yogyakarta, salah satu pemilik gerobak sapi.

Bukan hanya Triman, Bendol, salah satu pemilik gerobak lainnya di Prambanan, menuturkan belum lama ini gerobaknya disewa salah satu hotel. Ia diminta untuk mengangkut tamu hotel. “Tamu-tamu hotel terlihat senang naik gerobak,” ujarnya. Keberadaan gerobak semakin eksis saja. Gerobak tidak punah kendati mobil mobil membanjiri jalanan.

Gerobak sapi seakan mampu melintas zaman. Gerobak mendapat tempat di hati warga Yogyakarta.“Maka tidak ada salahnya jika kami memasang gerobak di Jogja City Mall. Maksud kami untuk lebih mengenalkan lagi gerobak sapi yang terlihat unik serta artistik,” ujar Eddy Purjanto dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Daerah Istimewa Yogyakarta yang turut mendukung kegiatan Festival Gerobak Sapi 2014 pada 23-24 Agustus 2014 lalu.

Eddy memasang gerobak sapi di Jogja City Mall (JCM) dilatarbelakangi ingin memperkenalkan kembali gerobak sapi pada generasi muda, bahwa pada zaman dulu terdapat alat angkut yang bernama gerobak.

“Biasanya mal selalu dikunjungi orang-orang kelas menengah ke atas. Banyak yang tak tahu apa itu gerobak. Karena itu, kami sengaja memajang untuk memperkenalkan, dan kami sangat berterima kasih karena ternyata pihak manajemen JCM sangat peduli dan juga memiliki komitmen dalam melestarikan warisan budaya ini,” ungkap Eddy.

Seiring dengan itu, Eddy bersama para anggota perusahaan periklanan yang tergabung di P3I Daerah Istimewa Yogyakarta dan Ikatan Biro Iklan Yogyakarta (IBIY) ingin berkontribusi serta mendukung penuh Festival Gerobak Sapi yang diselenggarakan Karang Taruna Malangrejo, Wedomartani, Sleman.

“Kami ingin Festival Gerobak Sapi ini menjadi event andalan Yogyakarta, dan sekaligus menjadi ikon Yogyakarta,” tutur Eddy.Yuyuk Sugarman, salah satu panitia Festival Gerobak Sapi 2014, menyambut baik dukungan P3I DIY dan IBIY.“Ada kesamaan cita-cita, yakni membuat Festival Gerobak Sapi ini sebagai event andalan,” ujar Yuyuk.

Kini, gerobak sapi pun tidak sungkan untuk menjejak mal dan hotel. (Agus Utantoro/ N-4) FESTIVAL GEROBAK SAPI: Sebuah gerobak sapi dipajang di salah satu pusat perbelanjaan saat Festival Gerobak Sapi 2014 berlangsung di Maguwoharjo, Sleman, Minggu (24/8). Media Indonesia, 27/08/2014, hal 12