Jumat, 26 September 2014

Memukau Dunia dengan Lenggok Nusantara

Dengan meramu keindahan berbagai tarian Nusantara, kelompok seni budaya Gantari Gita Khatulistiwa berhasil menggondol kemenangan di ajang World Championship of Folklore 2014. “LIMA, enam, tujuh, delapan,“ ucap Jihan Maghfira Nasery, kepada tujuh temannya. Gadis 16 tahun itu sedang melatih gerakan tari Indang asli Minang. Minggu (14/9) itu, kelompok seni budaya Gantari Gita Khatulistiwa (GGK) tengah menggelar syukuran kemenangan mereka di ajang internasional World Championship of Folklore 2014.Jihan dan teman-temannya merupakan salah satu tim yang menjadi peserta di ajang yang berlangsung pada 21-31 Agustus lalu itu.

“World Championship of Folklore ini merupakan salah satu kompetisi folklore terbesar di dunia,“ ujar Edwin Leo Mokodompit saat bertemu di sela-sela syukuran yang bertempat di Cakung, Jakarta. Leo, panggilannya, merupakan salah satu penggagas sekaligus instruktur di GGK. Leo menuturkan, untuk bisa berpartisipasi dalam kompetisi itu mereka melakoni perjuangan panjang, termasuk persyaratan kompetisi yang sangat berat. Meski GGK telah memiliki reputasi yang cukup bagus di dalam negeri, pihak penyelenggara tetap mengajukan berbagai persayaratan. Setiap calon peserta juga harus mengikuti serangkaian audisi agar bisa mendapat satu tempat di ajang tersebut.

Beruntung, setahun sebelumnya kelompok GGK berpartisipasi dalam kompetisi folklore bertajuk Open European Championship of Folklore: Euro Folk 2013. Dalam kompetisi yang diadakan pada Juli 2013 di Bulgaria itu mereka berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan memenangi juara umum II. Dengan tiket emas di tangan, GGK bisa mengikuti World Championship of Folklore 2014 tanpa harus melewati proses audisi. “Perjuangan kami mengikuti kompetisi ini sudah sejak setahun sebelumnya. Melalui kemenangan di kompetisi Euro Folk kami berhasil mendapat tiket untuk World Championship of Folklore. Di Euro Folk pula kami mulai mempelajari nilai-nilai seperti apa yang dianggap indah oleh juri,“ ujar Leo.

Berangkat dari pencapaian mereka menjadi yang kedua terbaik di Euro Folk, Leo dan tim instruktur memutar otak membuat strategi agar bisa lebih maksimal di World Championship of Folklore 2014. “Kita mendapat pengalaman dari Euro Folk, dengan juri-jurinya yang sangat mengapreasiasi tarian yang megah dan spektakuler. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat komposisi besar bersama sejumlah tim seni tari dan budaya,“ lanjut Leo yang lewat kategori vokal individu berhasil menambah satu emas bagi Indonesia di ajang yang sama.

Demi penampilan megah, GGK pun mengajak dua tim tari lain untuk berkolaborasi bergabung menjadi satu grup. Tim partner yang mereka pilih ialah tim seni tari Angsana Prabala dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan dari SMA Labschool Cibubur. Bersama kedua tim itu GGK merasa sudah memiliki kecocokan. Terlebih dua tim tersebut juga binaan dari Donny Yoshinda dan Cheelvy yang merupakan penata artistik di GGK.

Dengan demikian, total terkumpulah 59 anak muda untuk tampil di World Championship of Folklore 2014 di Bulgaria. Selama empat bulan remaja-remaja ini digembleng tim artistik GGK, yang juga mencakup Wilbrordus Wolo Mayang serta para pelatih musik Medy Marsidiast, Abdul Aziz, dan Dede Supriyatna.Keindahan Aceh hingga Papua Seperti juga ketika membentuk tim, formula kolaborasi juga dipakai untuk menentukan tarian yang dipentaskan. Mulai tari Saman Gayo (Aceh), Greget Dingke (Betawi), Katong Parampuang (Papua), Ta'mananai yang merupakan perpaduan tari Indang, Tempurung, dan Randai dari Minang, hingga tarian Gantar Talu dari Kalimantan lengkap dengan aksesori budaya Dayak, mereka padukan.

“Kita memilih tari-tarian yang mencerminkan keberagaman Indonesia. Kita ingin anak-anak muda ini merasakan kebinekaan melalui taritarian ini. Selain itu, tentu saja kita juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa budaya Indonesia itu memang kaya,“ sambung Leo. Benar saja, para juri dan penonton World Championship of Folklore begitu terpukau dengan konsep penampilan 59 penari GGK.Selama belasan menit mata mereka tidak luput dari suguhan gerakan-gerakan tari tradisional Indonesia.

Demi rangkaian tarian yang tidak boleh terputus, para penari remaja itu harus sigap dalam hitungan detik berganti pakaian untuk setiap jenis tari. “Pokoknya saat itu habis-habisan deh, memang benar kalau udah tampil di World Championship of Folklore ini aja udah bikin bangga, tapi saya malah benar-benar optimistis dan ingin kita menang saat itu,“ kenang Putri Cantika Reviera, salah seorang penari. Perjuangan panjang mereka pun terbayar di panggung tersebut. Dengan kekayaan budaya Nusantara, mereka bukan hanya meraih juara, melainkan juga membuka mata dunia akan pesona Indonesia. (M-4) Media Indonesia, 21/09/2014, halaman 18