Selasa, 05 Agustus 2014

Pos Indonesia Tambah 20 Hotel

Bisnis properti merupakan terobosan yang dilakukan perusahaan pengantar surat ini untuk keluar dari core business. Perusahaan akan menerbitkan surat utang (obligasi) sebesar Rp1 triliun pada semester pertama 2015. PT Pos Indonesia (per sero) semakin me lebarkan sayapnya di bisnis properti. Setelah membangun dua hotel pada tahun ini, perusahaan berpelat merah itu akan menambah pembangunan 20 hotel pada 2015.

Direktur Utama Pos Indonesia Budi Setiawan menuturkan perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,4 triliun pada 2015 untuk pembangunan 20 hotel berbintang tiga yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.

“Tersebar di Semarang, Pontianak, Bandung, Medan, Palembang, Makassar, dan Manado,“ ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dua hotel yang sedang dibangun di Bandung saat ini, yaitu Hotel Expost di Jalan Pahlawan (eks Kantor Area V Jabar) dan di Jalan Cihampelas Bandung (eks Mess Pos/KPC Cicendo).

Bisnis properti merupakan terobosan yang dilakukan perusahaan pengantar surat itu untuk keluar dari core business.
Untuk membangun satu hotel, jelas Budi, diperlukan investasi sebesar Rp30 miliar.

Sementara itu, pendanaan berasal dari penerbitan obligasi dan internal perusahaan.
Maka dari itu, perusahaan akan menerbitkan surat utang (obligasi) sebesar Rp1 triliun pada semester pertama 2015.

Instrumen investasi itu berguna memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjang.

Selain untuk pembangunan hotel, imbuh Budi, dana dari penerbitan surat utang juga akan dialokasikan untuk mengakuisisi perusahaan logistik yang memiliki jaringan pelayanan di Asia.

Rencana itu diterapkan untuk menghadapi implementasi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 sekaligus sebagai bagian rencana jangka panjang (RJP) perusahaan.

Ia menuturkan, Pos Indonesia berencana mengakuisisi perusahaan logistik yang memiliki aset Rp1 triliun. Hal itu bertujuan menambah pendapatan perseroan, khususnya anak perusahaan di bidang logistik.
“Sektor logistik akan berkontribusi terbesar kedua bagi Pos Indonesia hingga 2018,“ katanya.
Kendati begitu, ia menegaskan pihaknya menolak rencana pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dengan perusahaan asing lantaran adanya kendala perizinan.

Pendapatan naik Seiring dengan ekspansi perusahaan, pada semes ter I 2014, Pos Indonesia mencatatkan kinerja yang progresif. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp2,1 triliun, atau naik 12% ketimbang periode sama tahun lalu.

Penjualan, tutur Budi, didominasi bisnis surat dan parsel dengan kontribusi 55%.
Sementara itu, jasa keuangan sekitar 8%. “Sisanya dari sektor ritel, logistik, dan properti,“ papar Budi.
Budi menjelaskan, peningkatan penjualan tersebut berkontribusi pada pencapaian laba bersih senilai Rp110 miliar. “Pendapatan inline dengan laba,“ cetusnya. Ia optimistis pada akhir tahun, pendapatan Pos Indonesia akan naik 15% ketimbang tahun 2013 yang sebesar Rp4,23 triliun.

Menurutnya, pencapaian itu akan dikontribusikan dari penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS) sebesar Rp200 miliar dan pendapatan dari program kargo haji sebesar Rp10 miliar.

Sementara itu, anak perusahaan Pos Indonesia, PT Pos Logistik, berencana melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2017. (E-6) Media Indonesia, 26 Juli 2014, Halaman 14