Rabu, 16 Juli 2014

Dilema Pariwisata di Negeri Lompat Batu

Krisis listrik menjadi salah satu kendala investor minim menanamkan modal di Nias. Pulau Asu dan Pulau Bawa merupakan dua destinasi primadona di Kepulauan Nias yang memiliki ketinggian ombak 7-9 meter. Ditambah lagi adanya desa adat Tumori dengan berderetnya rumah adat dan tradisi lompat batu.

DUA peselancar sedang berlatih dengan bimbing an peselancar senior. Ombak setinggi 4 meter di Pantai Sirombu, Kabupaten Nias Barat, cocok untuk tempat berlatih para peselancar pemula. Apalagi pada musim berselancar seperti sekarang ini, banyak peselancar dalam dan luar negeri mendatangi Nias untuk bermain di atas ombak.

Keelokan Nias dengan gelombang lautnya yang tinggi sangat diminati wisatawan pecinta olahraga air. Tidak sedikit peselancar internasional bermain-main ombak di Pulau Bawa dan Pulau Asu. Namun, infrastruktur pariwisata olahraga air belum digarap maksimal, seperti halnya daerah lain yang juga menggarap wisata olahraga air seperti Bali dan Banyuwangi. (Anda dapat menggunakan rental mobil Medan sebagai sarana transportasi)

Bahkan penginapan untuk para turis di Kepulauan Nias masih terbatas. Hanya ada dua homestay dan satu bungalo. Sedikit sekali investor yang menanamkan modal di daerah tersebut. Pasalnya, Nias kerap mengalami pemadaman listrik sehingga sangat merugikan wisatawan maupun pebisnis yang akan menanamkan modal di sana. “Listrik masih menjadi masalah,“ ujar Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat, Yamonaha Waruwu.

Dalam Lokakarya Nasional Pengembangan Kepariwisataan Kepulauan Nias yang dibuka Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar di aula Kantor Bupati Nias pada 17 Juni lalu, masalah yang dihadapi Kabupaten Kepulauan Nias di sektor pariwisata dibahas mendalam.

“Pengembangan kepariwisataan Kepulauan Nias harus dilakukan secara integritas bersama empat kabupaten yang ada di Kepulauan Nias. Dalam sektor pariwisata, yang terpenting kekompakan. Pemerintah kotanya harus bersinergi,“ kata Sapta. Ia pun berjanji kebijakan pembangunan pariwisata Nias akan masuk program pemerintahan baru pascapemilu. “Tetap terus berjalan meski pemerintahan telah berganti,“ janji Sapta. Dalam lokakarya itu juga dilangsungkan penandatanganan perjanjian antara pemerintah pusat yang diwakili Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak dengan wali kota dan para bupati se-Nias.

Pembangunan wisata Kepulauan Nias memiliki objek wisata alam dan peninggalan sejarah budaya yang memikat. Pulau Asu dan Pulau Bawa merupakan dua destinasi primadona di Kepulauan Nias yang memiliki ketinggian ombak 7-9 meter. Ditambah lagi adanya desa adat Tumori dengan berderetnya rumah adat dan tradisi lompat batu.

Di sisi lain, Pantai Hoya yang eksotis dan Museum Pusaka Nias ikut memperindah kepulauan tersebut.
“Kita harus mulai bergerak dan lebih konkret, tidak hanya berwacana,“ kata Sapta lagi. Dalam lokakarya itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kawasan dan Kemitraan Perhubungan Kementerian Perhubungan Agus Edy Susilo menyatakan akan mendukung realisasi peningkatan infrastruktur bandara udara dan pelabuhan di daerah tujuan wisata Kepulauan Nias.

“Kementerian Perhubungan te lah meningkatkan kerja sama penerbangan secara bilateral dengan negara sumber pasar wisatawan melalui Bandara Kuala Namu yang sudah dibuka untuk ASEAN Open Sky,“ terangnya. Namun di daerah penyangga, Bandara Binaka belum digarap maksimal. Saat ini bandara itu memiliki keterbatasan, terutama landasan pacunya yang pendek. Ia pun merespons pembebasan tanah yang sudah dilakukan Bupati Nias Sokhiatulo Laoli. “Saat ini kami sedang mempelajari MoU supaya bisa direalisasikan perpanjangan landasan pacu dengan segera,“ kata Agus.

Secara geografis, posisi Kepulauan Nias sangat strategis karena merupakan wilayah terluar NKRI dan berbatasan dengan negara lain. Untuk itu, Kementerian Perhubung an juga akan membangun pelabuhan di pantai timur Kepulauan Nias. “Pemilihan di timur Nias karena lebih aman. Namun, membangun pelabuhan di pantai barat Nias yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia tidak disarankan karena faktor gelombang,“ saran Agus.

A Hermanto Dardak menambahkan, dalam pengembangan kepariwisataan Kepulauan Nias menjadi sebuah wahana, dibutuhkan sinergi semua potensi yang ada di kepulauan tersebut. “Kami bertanggung jawab terhadap infrastruktur tata ruang. Selain nyaman dan aman, harus produktif,“ saran Hermanto.

Dia menambahkan Kementerian Pekerjaan Umum memiliki prioritas untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata di Kepulauan Nias. “Saat ini sudah dibangun sarana pengolahan air minum di setiap kabupaten. Jalan yang melingkari pulau sepanjang 300 kilometer juga akan diselesaikan segera,“ janji Dardak.

Pada kesempatan itu Wali Kota Gunungsitoli Martinus Lase mengungkapkan sebetulnya pariwisata di wilayahnya belum menjadi sektor utama pendapatan daerah. Hal itu terlihat bagaimana daerah tersebut belum maju dalam membangun sektor pariwisata seperti halnya daerah-daerah lain. Bahkan di bidang wisata olahraga air seperti selancar, beberapa daerah telah mengembangkan dengan mengadakan acara berskala internasional seperti yang telah dilakukan Bali dan Banyuwangi.

“Kami berkomitmen untuk mengalokasikan dana lebih besar dari tahun sebelumnya, minimal Rp3 miliar sampai Rp4 miliar tiap daerah,“ ujar Martinus. Dia menambahkan, komitmen tersebut untuk mendorong pemerintah pusat ikut membantu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Nias dalam membangun sektor pariwisata, termasuk sarana, prasarana, dan sumber daya manusia. Bupati Nias Sokhiatulo menimpali bahwa selama ini pelayan publik di sektor pariwisata masih bersifat tradisio nal. Padahal, wisatawan yang datang sebagian besar dari mancanegara. “Nantinya kami akan membuat program pelatihan dan pendidikan di akademi pariwisata yang bisa langsung mendukung pengembangan pariwisata di daerah Nias,“ ujarnya. (N-3) - Media Indonesia, 9 Juli 2014, Halaman 23