Sabtu, 26 April 2014

Mengangkat Festival Erau di Mata Dunia

KUTAI Kartanegara(Kukar) sedang bersiap untuk kembali menye lenggarakan Festival Erau, Juni mendatang. Selain menampilkan beragam budaya lokal, lewat kerja sama dengan Culture of International Organization of Folk Arts (CIOFF), 11 negara juga dipastikan bakal ikut dalam festival adat tahunan ini.

Menurut Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, kehadiran negara-negara sahabat dalam Festival Erau memberikan nuansa berbeda setiap tahunnya.
Selain menjadi ajang edukasi bagi masyarakat setempat, festival ini juga menjadi `jembatan' untuk mengenalkan budaya Erau dan Kutai Kartanegara ke seluruh dunia.

“Kami ingin menyandingkan globalisasi dengan budaya. Di satu sisi, kita ingin menumbuhkan kesadaran di kalangan masyarakat bagaimana negaranegara maju seperti Prancis dan Korea Selatan pun masih menjunjung tinggi budaya mereka. Di sisi lain, kita juga ingin mengenalkan Erau ke seluruh dunia,“ ujar Rita Widyasari selaku Bupati Kutai Kartanegara di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, beberapa waktu lalu. Rita menambahkan bahwa kehadiran para penampil asing turut meningkatkan antusiasme masyarakat untuk menonton Festival Erau, yang mendapatkan imbas positif bagi bisnis pariwisata di Kutai. Pasalnya, selain turis dari luar negeri atau luar daerah, jumlah masyarakat yang ikut serta dalam Festival Erau juga terus bertambah setiap tahunnya.

“Jadinya masyarakat tidak jenuh dengan kebudayaan yang sifatnya sakral saja. Festival ini mengadirkan ragam hiburan yang bisa disaksikan dan pemuda yang ikut serta juga semakin banyak. Masyarakat menjadi antusias karena ada budaya lain yang bisa ditonton,“ ujar Rita.

Erau berasal dari kata “eroh“ yang dalam bahasa Kutai berarti “riuh“, “ramai“, “hiruk-pikuk“ atau “suasana yang penuh suka cita“. Suasana hiruk-pikuk ini tergambar dengan banyaknya orang yang terlibat dalam festival dan berbagai pertunjukan yang ditampilkan.

Menurut catatan sejarah, perayaan ini pertama kali dilaksanakan ketika putra tunggal petinggi negeri Jahitan Layar, Aji Batara Agung Dewa Sakti, berusia 5 tahun. Sebagai tanda bahwa si anak diperbolehkan bermain-main keluar rumah, para petinggi kerajaan mengadakan upacara “Tijak Tanah“ dan “Mandi ke Tepian“.

Erau juga dilaksanakan setelah ia dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325). Sejak saat itu, Erau selalu diadakan setiap kali raja Kutai Kartanegara yang baru dinobatkan.
Seiring waktu, Erau juga diselenggarakan dalam rangka pemberian gelar dari raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan Kutai.

Diungkapkan Rita, dahulu Erau diselenggarakan setiap bulan September, bertepatan dengan tanggal berdirinya Kota Teng garong pada 29 September 1972.

Belakangan, Festival Erau diper cepat penyelenggaraannya men jadi Juni bertepatan dengan libur sekolah agar anak-anak sekolah bisa turut menyaksikan.

Olahraga tradisional Selain diisi pagelaran seni dan budaya, sebagaimana Festival Erau sebelumnya, kali ini permainan dan olahraga tradisional semisal gasing dan behempas (pertarungan menggunakan rotan) juga bakal dilombakan.
“Permainan dan olahraga tradisional ini kita lombakan supaya ada semangatnya. Harapan kita, permainan dan olahraga tradisional ini tidak hilang tergerus oleh era globalisasi,“ ujar Rita.

Ritual lain yang menarik disaksikan dalam Festival Erau ialah ritual `Mengulur Naga'. Pada ritual ini, rombongan utusan Keraton Kutai mengarak sepasang replika naga menggunakan perahu untuk dilepaskan di aliran Sungai Mahakam di kawasan Kutai Lama.
Rencananya, Festival Erau 2014 akan diselenggarakan dari 14 hingga 23 Juni. Cuplikan semarak Festival Erau juga bisa disaksikan di Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia, West Mall Lt.8, Jakarta pada tanggal 3 Mei 2014 ini. Di dalam acara yang bertajuk “Erau Festival: The Origin of Kutai“ ini, para seniman yang berpartisipasi dalam Festival Erau menampilkan musik dan tarian khas daerahnya.

Diiringi dengan musik gamelan yang datang langsung dari Kesultanan Kutai dan pemusik tradisional Dayak Benuaq, pertunjukan kecil di Galeri Indonesia Kaya ini akan menampilkan tari tradisional Keraton dan Dayak Benuaq, sehingga masyarakat Jakarta yang tidak memiliki kesempatan untuk datang langsung ke Kutai dapat mengintip sedikit kemeriahan Festival Erau. (Deo/S-25) Media Indonesia, 24/04/2014, halaman 2