Sabtu, 19 April 2014

Kopi Jawa Barat Riwayatmu Kini

“PAK Asep, ini daun pinus sifatnya panas dan tajam, tidak baik untuk perkembangan pohon kopi. Ini juga ada hama penggeret buah, ini harus dibersihkan. Kalau tidak, buahnya saja yang merah, tapi dalamnya kosong,“ ujar Alexander Merdeka, 34, volunter dan praktisi kopi yang turut membina para petani di kawasan Desa Lamajang, Pengalengan, Jawa Barat.
“Oooo begitu, ya, Pak... Saya tak tahu. Habis bagaimana, kami juga tak punya modal pemeliharaan. Yah, jadi kalau ada dedaunan kami biarkan saja,“ jawab Asep.

Percakapan itu terjadi antara Asep (petani kopi) dan Alexander Merdeka, 34, penggiat yang membina petani kopi di kawasan tersebut. Percakapan berlangsung di tengah kebun kopi yang lokasinya sekitar 5 km dengan mendaki Gunung Tilu di Pengalengan, Jawa Barat.

Kendala Menurut Alex, ada dua permasalahan besar yang terjadi pada petani kopi di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Pertama, sumber daya manusia (SDM) yang masih belum terbina dengan baik sehingga menghasilkan kopi yang kurang bermutu dan penurunan produktivitas, kedua masalah akses jalan yang belum memadai.

Masalah SDM tidak bisa lepas dari minimnya pengetahuan, mulai teknik tanam, pemeliharaan, panen, hingga pengolahan. “Bisa dibilang, 80% petani Jabar belum mengerti budi daya kopi yang benar. Hal itu diperparah lagi dengan proses panen yang salah,“ papar Alex.

Engkan, petani yang datang bersama Asep, mengakui keterbatasan pengetahuan soal penanaman, pemeliharaan, dan pengolahan kopi. Dia sempat tertipu membeli bibit yang ternyata tidak baik. “Memang tumbuh, tapi tahun ketiga mati. Kapok saya,“ kisahnya. Kendala lain menyangkut akses jalan.

Kelompok tani Engkan, yang berjumlah tujuh orang dengan total la han 15 hektare, selalu kesulitan mengakut hasil panen. Maklum, jalanan ke kebun menanjak dan tidak bisa dilalui mobil.

Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika petani di Desa Lamajang, Pengalengan, yang jumlahnya ratusan orang, sebagian besar terjerat tengkulak. Tengkulaknya justru banyak yang berasal dari luar Jawa.

Kopi-kopi hasil petani Jawa Barat banyak dibawa ke Sumatra dan Surabaya, kemudian berganti nama.

Tengkulak, menurut Alex, bekerja dalam banyak cara, misalnya, dengan ijon. “Para petani, jika sabar bisa mendapat penghasilan Rp25 juta, tapi tergiur dengan iming-iming ijon yang dihargai Rp10 juta. Mengenaskan. Kesejahteraan mereka jadi rendah, nama kopi Jawa Barat pun tenggelam,“ paparnya.

Pembinaan Beruntung, kini, Engkan, Asep, Nana, dan juga 70 rekan petani lain di Pangalengan sejak 7 bulan lalu tergabung dalam kelompok tani di Lembaran Kopi Rakyat Merdeka yang dimiliki Alex. Para petani dibina, diberi bantuan, dan kopinya dibeli dengan harga lebih tinggi.

Alexander mendekati para pembeli kopi, menjual, dan menjamin kualitas serta kuantitas kopi. Setelah itu, beberapa persen dari hasil penjualan yang lebih tinggi dikembalikan dalam bentuk pupuk. Cara tersebut ternyata manjur. “Dulu tengkulak menghargai Rp2.500 per kg, sekarang kami beli Rp6.000 per kg,“ ujar Alex.

Alexander memiliki cita-cita menghidupkan kembali kopi Jabar yang dulu pernah berjaya, tapi sempat menghilang dan baru belakangan muncul kembali. “Padahal, kopi arabika itu pertama kali tumbuh di Indonesia, ya, di Pengalengan, Jawa Barat ini,“ tuturnya.

Kini, berkat binaannya, sudah ada dua sentra kopi di Jabar yang memiliki produksi kopi paling baik sesuai standar ekspor, yakni di Sumedang dan Sukabumi.

“Masih jauh dari ideal karena masih banyak petani kopi yang belum mau dan belum bisa lepas dari tengkulak,“ pungkasnya. (Sky/M-7/MEDIA INDONESIA, 13/04/2014, HAL : 5)