Selasa, 01 April 2014

Berkelana ke Persimpangan Peradaban di Nagoya

Bagi Anda kaum muslim yang memerlukan tempat ibadah, Nagoya memiliki Masjid Nagoya. Mesjid yang berdiri pada 1998 ini terletak di Nakamura-ku, Nagoya dan dapat ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun subway Honjin.

MEMORI masa lalu berpadu dengan kecanggihan masa kini di Nagoya. Kota itu pernah menjadi jalur penghubung utama antara Edo dan Osaka sekitar empat abad lalu. Sisa kenangan masa lalu itu masih terpatri di lantai dasar JR Central Tower. Gedung yang berfungsi sebagai stasiun utama itu kini menjadi tengara (landmark) modern kota Nagoya.

Dengan ketinggian 245 meter, bangunan itu menjadi stasiun tertinggi di Jepang. Beragam fasilitas terintegrasi, meliputi pusat perbelanjaan, restoran hingga hotel. Anda pun bisa memandangi keseluruhan kota dari puncak bangunan. Kerlap-kerlip lampu yang bersinar di kala malam mampu menarik pengunjung untuk datang.

Banyak orang sekadar bersantai melepas lelah, terutama saat Natal tiba. Apalagi, di sekitar area tersebut, berdiri banyak pusat perbelanjaan, hotel dan gedung perkantoran yang saling terhubung lewat gang bawah tanah, seperti Midland Square dan The Nagoya Lucent Tower.

Jika belum puas, Anda bisa melanjutkan wisata belanja di Sakae. Terdapat banyak toko yang memajang barangbarang unik kesukaan kaum muda, termasuk fesyen dan perlengkapan interior rumah. Area itu juga dikelilingi sejumlah kafe dan restoran berkualitas tinggi yang mampu memanjakan lidah Anda. Untuk mencapai daerah ini, Anda cukup menumpang kereta lima menit dari stasiun utama Nagoya.

Kekontrasan suasana modern Nagoya dihadirkan oleh Kastil Nagoya. Bangunan yang terkenal dengan sepasang `sachihoko' keemasan ini didirikan semasa pemerintahan Tokugawa Ieyasu pada 1612 lalu. Lokasinya berada hampir di pusat Kota Nagoya. Awalnya, benteng itu ditujukan untuk mengamankan Jalan Tokaido sekaligus menahan ancaman serangan dari Osaka.

Bangunan itu berkembang menjadi sebuah komplek dan sebanyak tiga generasi keluarga Owari menetap di tempat ini. Hingga Perang Dunia II menghancurkannya pada 1945, bangunan itu berhasil didirikan kembali pada 1959 dengan struktur bangunan yang lebih kokoh.

Di dalam bangunan kastil dibuka ruang pamer sehingga Anda bisa mengamati lebih dekat sejarah panjang simbol masa lalu Nagoya ini. Anda juga bisa menemukan penjelasan atas kisah keluarga Owari didalamnya. Setelah puas menjelajah bagian dalam bangunan, Anda bisa menikmati Meijo-koen.

Koen berarti taman dalam bahasa Indonesia. Area itu dibangun mengelilingi kastil dan memiliki sejumlah koleksi tanaman bunga yang mekar dalam musim berbeda-beda. Banyak turis yang datang menikmati keindahannya, terutama saat digelar festival sakura di musim semi, festival musim panas, dan pertunjukan boneka bunga krisan.

Belanja cinderamata Tak lengkap rasanya berkunjung ke Nagoya tanpa membawa pulang cinderamata. Oleh-oleh yang populer dari Nagoya di antaranya adalah mi pipih bernama Kishimen, kue berbahan tepung beras bernama Uiro dan keramik.

Anda bisa mengunjungi Noritake-no-Mori yang berjarak 15 menit jalan kaki dari Stasiun Nagoya untuk membeli keramik yang cantik. Jika bujet terbatas, Anda bisa tetap menikmati pajangan keramik yang ditata di bangunan museum yang sengaja dibuka oleh pabrik barang pecah belah Noritake.

Bagi Anda kaum muslim yang memerlukan tempat ibadah, Nagoya memiliki Masjid Nagoya. Mesjid yang berdiri pada 1998 ini terletak di Nakamura-ku, Nagoya dan dapat ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun subway Honjin.

Masjid itu terdiri atas empat lantai. Lantai satu adalah pusat kebudayaan Islam, lantai 2 tempat salat untuk perempuan, lantai 3 dan 4 adalah tempat salat pria.

(Din/S-25/MEDIA INDONESIA,28/03/2014; HAL:5)