Sabtu, 03 Mei 2014

Bintang Pariwisata Nepal

PERIODE 15-30 Mei dikenal sebagai waktu terbaik untuk mencapai puncak Everest. Sebelum tragedi longsor dua pekan lalu, Kementerian Pariwisata Nepal menyatakan 334 pendaki sudah mengantongi izin mendaki Everest. Mereka akan dibantu sekitar 400 sherpa--sebutan untuk pemandu sekaligus suku asli setempat. Faktanya, ketika longsor terjadi, sekitar 100 pendaki telantar, apalagi setelah para sherpa menyatakan mogok massal.

Bukan hanya para pendaki yang telantar. Perekonomian Nepal pun terancam kehilangan pendapatan besar dari pariwisata pendakian. Seorang pendaki harus mengeluarkan dana setidaknya US$40 ribu-60 ribu untuk sekali perjalanan. Pemerintah Nepal mendapatkan pendapatan rata-rata hingga US$100 juta (Rp1,16 triliun) per tahun dari Gunung Everest.

Setiap musim pendakian selama sekitar tiga bulan, seorang sherpa beroleh penghasilan rata-rata US$3.000US$6.000 (sekitar Rp34,9 juta-Rp69,7 juta). Dengan tingkat pendapatan per kapita warga Nepal US$700 (sekitar Rp8,14 juta), pendapatan sherpa sangat didambakan.

"Menjadi sherpa adalah pekerjaan bergengsi. Mereka jadi rock star di komunitas mereka," kata penulis buku Dark Summit: The True Story of Everest" Most Controversial Season, Nick Heil.
Penulis buku The Vast Unknown: America First Ascent of Everest, Broughton Coburn, mengatakan pariwisata telah mengubah perekonomian kawasan sekitar.

Di luar musim pendakian, kata Coburn, kawasan tersebut juga ramai oleh turis yang menginap di Kathmandu untuk melihat dan merasakan sensasi Everest dari dekat.

Adapun untuk mendaki, Heil menegaskan, mustahil mencapai puncak Everest tanpa bantuan sherpa.
Atas dasar itulah Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal, Sherpa Pasang, menegaskan boikot total yang dilakukan para sherpa akan mengganggu industri pariwisata pendakian Nepal dalam waktu lama. (Reuters/AP/ CBC/Kid/M-1) Media Indonesia, 29/04/2014, hal : 23