Kamis, 02 Oktober 2014

Mewariskan Kekayaan Batik pada Kaum Muda

PPBN adalah sarana untuk melestarikan batik Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai The Intangible Heritage of Humanity.

MATA Nina Jane Bustan, 21, asal Jakarta, berkaca kaca sesaat anggota dewan juri Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2014 Anita Ratnasari Chairul Tanjung mendapuknya sebagai pemenang I Putri Batik Nusantara 2014. Di sampingnya, pemenang I Putra Batik Nusantara 2014 Garuda Cakti Viratama,20, asal Surabaya menguatkannya sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa prestasi yang diraih bukan sekadar mimpi.

Dewan juri yang diketuai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Wamenparekraf ) Sapta Nirwandar menilai presentasi mereka di atas panggung lebih unggul jika dibandingkan dengan yang lain.Dalam tahap wawancara II, Nina dianggap berhasil menerangkan makna kain batik kompeni yang menampilkan motif kereta api milik Belanda khas abad pertengahan. Sedangkan, Garuda berhasil menerangkan sejarah di balik batik nitik Yogyakarta yang disodorkan kepadanya.

Selain keduanya, dewan juri juga mendapuk Adrianus Sandy Dharmawan, asal Jakarta dan Fransiska Oki Riang, asal Solo sebagai pemenang II PPBN 2014. Sedangkan, tempat ketiga diraih oleh pasangan I Gusti Made Kusuma W, asal Denpasar dan Cindy Herin Adisa Handatary, asal Jakarta.Ketiga pasang pemenang tersebut selanjutnya akan bertugas sebagai Duta Batik Indonesia hingga setahun ke depan. Mereka akan bertanggung jawab memperkenalkan batik sekaligus mempromosikan filosofi dari batik baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Untuk menambah pengetahuan mereka dalam menyebarkan informasi tentang batik kepada masyarakat terutama menumbuhkan kecintaan atas batik di kalangan generasi muda, mereka dijadwalkan untuk mengikuti kegiatan Batik Trip ke sejumlah lokasi sentra pembuatan batik, seperti Solo dan Yogyakarta.Mereka juga berkesempatan untuk ikut serta dalam pameran pariwisata Indonesia di dalam dan luar negeri.

Keenam pemenang berhasil terpilih dari 28 finalis hasil seleksi di 18 kota besar di Indonesia. Proses audisi itu berlangsung sepanjang AprilJuli 2014 oleh tim seleksi yang beranggotakan perwakilan Kemenparekraf, ahli batik, pakar pemasaran, pejabat setempat, Dekranasda dan media lokal.Proses seleksi itu meloloskan 67 semifinalis dari seluruh Indonesia dan selanjutnya hanya 14 pasang finalis yang berhak mengikuti kegiatan karantina selama lima hari mulai 25 September hingga 29 September 2014.

Ketua Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) Ayu Dyah Pasha menerangkan bahwa ajang pemilihan yang sudah digelar keempat kalinya itu adalah sarana untuk melestarikan batik Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai The Intangible Heritage of Humanity pada 2009 lalu. Ia menyadari bahwa generasi muda berperan penting sebagai penerus dalam pelestarian dan pengembangan warisan budaya tersebut, khususnya di kalangan generasi muda sendiri. Kehadiran ajang pemilihan ini diharapkan mampu melekatkan generasi muda dengan batik dan menjadikannya sebagai sebagai jati diri bangsa.

“Yang terpilih menjadi finalis ini harus memiliki wawasan soal batik dan pada saat karantina kami membuat workshop membatik agar mereka memahami prosesnya.Kalau sudah paham, mereka bisa jatuh cinta sama batik,“ ujar Ayu dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (28/9). Untuk itu, tidak mengherankan jika para finalis memperoleh materi yang padat terkait pengetahuan batik. Selain belajar sejarah batik dan praktek membatik di Museum Tekstil Jakarta.

Materi dalam masa karantina juga dilengkapi dengan pembahasan mengenai etiket pergaulan, sosial media, public speaking, pengetahuan pariwisata, kewirausahaan hingga tips dan trik padu padan busana batik. “Kalau setiap hari kelihatan keren memakai batik, teman-teman mereka lama-lama juga akan tertarik.Dan, saya lihat gerakan anak muda untuk memasyarakatkan batik semakin kuat selama empat tahun belakangan ini,“imbuhnya.Wirausaha batik Wamenparekraf Sapta Nirwandar menegaskan bahwa batik merupakan bukti konkrit dari peradaban tinggi milik bangsa.

Peradaban tersebut tercipta berkat penggalian kreativitas yang terus menerus. Tapi, peradaban tersebut tidak berarti jika tidak dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi muda. Pasalnya, dari merekalah ide-ide segar bagaimana memanfaatkan hasil budaya luhur itu bisa diproduksi lebih banyak. Pemanfaatan ide-ide berbasis budaya lokal itu diyakininya akan berdampak pada peningkatan kes ejahteraan masyarakat. Batik, misalnya, kini tak hanya dikembangkan untuk produk fesyen tetapi juga diaplikasikan dalam produk-produk desain interior, seperti taplak, kap lampu hingga furnitur.Sapta Nirwandar menyebut nilai produksi industri batik per tahun meningkat sekitar 13% atau meningkat sekitar Rp372 miliar pada 2013.“Memang tidak terlalu akurat karena sebutan kain batik untuk kain tradisional lainnya, padahal ada kategori lain untuk penyebutannya,seperti tenun dan songket. Tapi, yang pasti, produksi batik ini sangat meningkat dan berkembang pesat,“ sahutnya.

Menyadari potensi tersebut, ia menantang lebih banyak generasi muda yang terlibat dalam bisnis batik. Menjadikan batik sebagai sumber kreativitas bisnis merupakan langkah nyata dalam upaya pelestarian warisan budaya tersebut.Ia meyakini semakin banyak pengusaha yang bergerak di pemanfaatan batik akan semakin meneguhkan branding batik sebagai warisan budaya milik Indonesia. “Branding“ itu sesuatu yang mahal dan lama diperjuangkannya. Untuk itu, silakan berkreasi secantik mungkin dengan batik. Tidak hanya untuk pakaian, tapi lebih besar lagi,“ tukasnya.Bukti nyata Salah satu yang menjawab tantangan tersebut Rizki Triana.

Perempuan berusia 20 tahun itu merupakan salah satu tujuh besar PPBN 2012 lalu. Ia memutuskan untuk mengembangkan bisnis fesyen batik sejak 2012 silam setelah mengikuti PPBN Brand fesyen miliknya yang dinamakan Oemah Etnik berhasil diperagakan di Windows of Indonesia Fashion Show di Ukraina pada tahun ini. Koleksi musim panas Oemah Etnik juga dipakai oleh para finalis PPBN 2014. “Awalnya, jujur aku ikut PPBN itu hanya untuk dapat beasiswa S2 gratis. Tapi, enggak dapat jadi pemenang, aku malah dikasih kesempatan untuk kenal dengan batik,“ celotehnya kepada Media Indonesia.

Ketertarikannya dengan kewirausahaan memang terbentuk sebelum ia mengikuti ajang PPBN. Namun, bisnis yang berhasil ditekuninya adalah fesyen batik. Pengetahuan yang diperoleh semasa karantina menjadi awal langkahnya untuk mempelajari batik lebih dalam. Disitulah, ia menemukan bahwa batik berpotensi besar untuk berkembang tapi jarang anak muda yang mau terjun didalamnya. “Coba diperhatikan siapa anak muda yang dikenal menekuni bisnis busana batik? Enggak ada kan?
Harusnya ada regenerasinya.Nama-nama desainer yang terkenal itu lebih menyasar ke konsumen middle-up, sedangkan kalau anak muda mau beli kan enggak terjangkau,“ cetusnya.

Keyakinannya menggeluti batik berbuah manis. Dengan tawaran harga antara Rp200ribu hingga Rp499ribu, omzet usahanya kini mencapai pu luhan juta. Tentu saja, pembeli utamanya adalah para anak muda yang mencari desain berbeda dari batik. “Persoalan para pengrajin di daerah itu adalah hasil kerja mereka tidak menjanjikan kesejahteraan dibandingkan mereka kerja di pabrik. Nah, kalau ada kita lebih banyak, mereka bisa bertahan karena mereka sejahtera,“ tambahnya.

Perintis baru Ketertarikan menjalankan bisnis berbasis batik juga dialami oleh Ekqy S Mamma, 24.Salah satu finalis PPBN 2013 ini memutuskan untuk merintis bisnis batik Sulawesi Selatan, tempat ia berasal. Ia memanfaatkan kain sutra Makassar yang terkenal berkualitas baik dan memadunya dengan motifmotif khas Tana Toraja dan Makassar. Bisnis tersebut menambah kesibukannya sebagai mahasiswa S2 dan psikolog.“Saat dikarantina, saya mengetahui bahwa salah satu batik tertua itu di Tana Toraja. Kalau nenek moyang saya bisa membatik, saya yakin daerah saya ada batik. Batik itu bukan Jawa doang, tapi seluruh Indonesia,“ terangnya.

Bisnis batiknya menggandeng dua pengrajin batik setempat. Dengan motif yang khas, ia menjual kain batiknya seharga Rp2,5 juta per lembar. Berbeda dengan Rizki, ia memilih segmen pasar kaum lelaki kalangan menengah ke atas. Sejauh ini, ia menyatakan target pasarnya cukup banyak yang tertarik meski ia mengakui masih sering dipertanyakan tentang harga mahal yang harus dibayarkan. “Orang lebih rela bayar mahal untuk produk yang dari luar daerahnya, tapi enggan untuk produk sendiri padahal membuat batik itu tidak gampang dan prosesnya lama,“ keluhnya.(Din/S-25) Media Indonesia, 2/10/2014, halaman : 13