Rabu, 15 Oktober 2014

Keramahan Perlu Ditingkatkan

Wisatawan sering mengeluhkan perilaku masyarakat atau pedagang di sekitar destinasi wisata yang justru mengganggu kenikmatan mereka dalam berwisata. Pariwisata amat berkaitan dengan sektor ekonomi kreatif yang ujung-ujungnya dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola baik dan tepat.

MASYARAKAT Indonesia diharapkan bisa memperbaiki perilaku mereka saat menghadapi wisatawan Nusantara dan mancanegara, sebab meski Indonesia punya segalanya untuk berkompetisi dengan negara lain, masalah keramahan bisa membuat perkembangan pariwisata di Indonesia jadi terhambat.

“Hospitality (keramahan) masyarakat harus segera diperbaiki agar wisatawan lebih banyak datang ke destinasi wisata di Indonesia,'' kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar ketika memaparkan buku terbarunya berjudul Bulding Wow: Indonesia Tourism and Creative Industry, di Jakarta, kemarin.

Acara bedah buku itu dipandu Kepala Divisi Pemberitaan Media Indonesia Abdul Kohar sebagai moderator. Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong dan pakar pemasaran sekaligus CEO MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya menjadi pembahas.

Sapta mengatakan wisatawan sering mengeluhkan perilaku masyarakat atau pedagang di sekitar destinasi wisata.Lantaran bernafsu menjual produk industri kreatif kepada wisatawan, pedagang dan masyarakat lokal justru sering mengganggu kenikmatan mereka.

“Padahal, industri kreatif di lokasi wisata merupakan pilar ekonomi masa depan.'' Ia menambahkan, pariwisata amat berkaitan dengan sektor ekonomi kreatif yang ujungujungnya dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola baik dan tepat. Data Kemenparekraf misalnya menyebutkan pengeluaran 8,6 juta wisatawan asing pada tahun lalu setara dengan Rp98,21 triliun. Kemudian, pengeluaran dari pergerakan 248 juta wisatawan Nusantara tahun lalu, Rp176,32 triliun.

Bahkan, produk domestik bruto (PDB) pariwisata tahun lalu menyumbang 3,88% dari total PDB sebesar Rp9.084 triliun atau sekitar Rp347,35 triliun.

“Walau terbilang masih kecil, industri pariwisata termasuk tahan banting serta tidak terlalu terpengaruh berbagai krisis ekonomi yang melanda dunia.Karena itu, kami menargetkan pada 2020 jumlah kunjungan wisatawan asing 20 juta orang ke Indonesia,'' papar Sapta.

Untuk mencapai angka itu, kata Sapta, selain keramahan, pemerintah mesti memperbaiki promosi dan infrastruktur beberapa destinasi pariwisata.Strategi pemasaran Sementara itu, Usman Kansong berpendapat buku yang ditulis Sapta kaya data, argumentasi, dan strategi bidang pariwisata. “Saya harap, media bisa dilibatkan menyebarluaskan gagasan ini,'' paparnya.

Usman menambahkan, tantangan lain pariwisata Indonesia di masa depan selain masalah infrastruktur serta kesiapan masyarakat ialah menjadikan semua pihak yang terlibat di bidang tersebut sejalan. “Elemen pemerintahan harus sejalan dengan regulasi,'' tambahnya.

Di sisi lain, Hermawan Kartajaya menambahkan pentingnya strategi baru pemasaran. “Kini trennya bergerak menjadi lebih horizontal, inklusif, dan sosial.Bukan hanya level enjoyment dan experience, melainkan pada tahap bagaimana pariwisata dapat melahirkan engagement, sehingga wisatawan bisa menjadi advokat atau pemasar pariwisata Indonesia,“ ujar dia. (H-2) Media Indonesia, 15/10/2014, halaman 15