Minggu, 21 Juni 2015

Pola Mudik Gratis Gerus Angkutan Bus

Presiden telah menginstruksikan untuk menurunkan tarif tol pada H-10 hingga H+10 Lebaran.
PROGRAM mudik gratis yang banyak digelar berbagai instansi un tuk karyawan mereka justru merusak tatanan angkutan umum, khususnya transportasi darat. Persoalan bukan pada programnya, melainkan pada pola pelaksanaannya.

Hal tersebut disampaikan pengamat transportasi Danang Parikesit dalam sebuah diskusi bertema Mengatasi keruwetan arus mudik, di Jakarta, kemarin.

Menurut Danang, anggaran yang dialokasikan untuk mudik gratis semestinya disalurkan kepada angkutan reguler. Bukan malah untuk menyewa bus khusus.

“Uang untuk mudik gratis, baiknya disalurkan untuk pembelian tiket atau voucer gratis untuk karyawan naik bus jurusan apa saja. Bisa juga kerja sama dengan operator bus,“ papar Danang.

Ketua Umum DPP Organda Adrianto Djokosoetono mengakui aktivitas mudik membuat angkutan bus kehilangan potensi pendapatan 3%-5%.“Memang masih kecil. Tapi kita belum tahu hilangnya kemana. Kami akan koordinasi dengan kemenhub untuk masalah ini.“

Adrianto terus mendorong pemerintah untuk lebih berpihak kepada angkutan massal. Organda pun berupaya memperbaiki layanan agar masyarakat lebih tertarik memakai bus. Angkutan bus bakal mengadopsi sistem layanan tiket seperti di perkeretaapian dan pesawat terbang.

Jumlah pemudik tahun ini diperkirakan 20 juta orang, naik 2% ketimbang 2014. Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan jumlah armada kereta api, pesawat, DAMRI, dan feri akan ditingkatkan dari hari biasanya. Di samping itu, Presiden sudah menginstruksikan penurunan tarif tol sebesar 30% dari H-10 hingga H+10 Lebaran.“Jadi akan mengurangi biaya logistik bahan makanan yang akhir puasa akan semakin lalu lalang melalui tol,“ ucap Rini di rumah dinasnya, di Jakarta, kemarin.Kesiapan jalur Direktur Jenderal Bina Marga Hediyanto Husaini mengklaim kondisi jalan untuk mudik di Jawa sudah 100%.

“Untuk di luar Jawa, khususnya Sumatra juga sudah 90%.Paling hanya ada pekerjaan kecil.“

Namun, ada titik-titik potensi kemacetan yang perlu diwaspadai, khususnya di Lampung, Tembagi Besar, Muara Enim, dan sebagian di Bitung. “Itu karena ada pergantian jembatan,“ tutur Hediyanto.

Di kesempatan berbeda, Dinas Perhubungan dan Kepolisian Jawa Tengah menyatakan akan memperkuat pengamanan di sekitar Pejagan, Tanjung, Kabupaten Brebes, untuk mengantipasi kemacetan.

Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, kemarin, pengoperasian ruas Tol Cikopo Palimanan (Cipali), Jawa Barat, mengurangi lalu lintas jalan pantura hingga 60%.

Pada periode mudik, kemacetan bisa terjadi di area pintupintu tol karena antrean. Jalan yang belum sempurna, seperti di pintu tol keluar di Pejagan, Tanjung, Brebes, juga dapat memicu kemacetan.

Pemudik juga perlu tetap waspada untuk menghindari kecelakaan. Sejak Tol Cipali resmi beroperasi pekan lalu, hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Teranyar, sebuah minibus rusak parah karena menabrak segerombolan babi hutan yang melintas jalan tol.

Sementara itu, untuk menyambut para pemudik, perbaikan pelabuhan penyeberangan Gilimanuk Bali-Ketapang Banyuwangi Jawa Timur juga telah tuntas. Enam dermaga siap beroperasi secara penuh.(Jes/AS/RZ/RS/E-1) Sumber Media Indonesia, 21/06/2015, Halaman 4