Selasa, 13 Januari 2015

Kesetiaan Menjaga Warisan Mataram Kuno

BENDA-BENDA purbakala yang ditemukan di Situs Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, sudah mulai dilirik para kolektor barang antik. Mereka sengaja mendatangi lokasi penyimpanan temuan situs dan berusaha mendapatkan benda-benda purbakala itu dengan menawarkan sejumlah uang.

Kepala Desa Purbasari, Sofiudin Anshori, mengaku pernah didatangi kolektor benda antik. Dalam satu tahun sudah ada 10 kolektor yang datang padanya. Kejadian itu ia alami dalam kurun waktu 2012-2013.Malah di antara puluhan kolektor tersebut ada yang pernah menawarkan uang hingga Rp200 juta agar bisa menukar salah satu benda antik yang disimpan di rumahnya.

“Waktu itu saya menyimpan temuan purbakala berupa patung kepala singa. Dalam setahun ada sekitar 10 kolektor yang datang. Malah ada yang menawarkan Rp200 juta untuk membeli patung kepala singa itu,“ kata Sofiudin. Karena merasa khawatir jika benda-benda purbakala itu hilang, Sofiudin pun berinisiatif menyerahkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah beberapa bulan lalu.

Hal serupa juga dialami juru pelihara Situs Liyangan, Samudi. Tahun ini, ia didatangi seorang kolektor dari Surakarta yang berminat memiliki koleksi salah satu benda temuan dari Situs Liyangan. Namun, Samudi dengan tegas menolaknya.
“Kolektor yang datang ke saya waktu itu belum sampai menawarkan sejumlah uang. Mereka baru menyatakan berminat, tapi sudah saya tolak,“ ujar Samudi.

Sekarang ini rumah Samudi masih menjadi tempat penyimpanan sementara puluhan benda temuan Situs Liyangan. Temuan yang masih disimpan antara lain berupa pecahan-pecahan keramik, gerabah, dan alatalat dapur. Temuan utuh seperti patung dan guci sudah dibawa dan disimpan BPCB Jawa Tengah.

“Kalau temuan guci kebanyakan sudah pecah. Yang masih utuh dan bisa dirangkai lagi dibawa ke Kantor BPCB. Sebagian masih dirangkai lagi,“ ujar dia.

Kepedulian masyarakat sekitar temuan Situs Liyangan terhadap situs perkampungan zaman Mataram Kuno itu amat tinggi. Mereka bahkan ikut serta menjaga benda-benda purbakala yang ditemukan. Warga juga ikut serta secara aktif dalam proses ekskavasi.

Dalam proses ekskavasi tahap kelima ini, misalnya, ada tujuh warga yang ikut terlibat proses penggalian.Keterlibatan warga ini secara sukarela. Mereka membantu tim ekskavasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Keterlibatan warga juga tampak pada penjagaan benda-benda purbakala yang ditemukan. Sedikitnya ada 20 orang penduduk sekitar yang ikut menjaga sekitar lokasi temuan situs bersama lima orang dari BPCB. Mereka bekerja menjaga berdasarkan sistem sif.
Beberapa waktu lalu warga juga aktif mempromosikan Situs Liyangan dengan menyelenggarakan gelar budaya nyadran kali Situs Liyangan. (TS/N-4) Media Indonesia, 17/12/2014, halaman 23